Kamis, 13 Januari 2011

Posisi Untuk Prestasi Itu Penting (13)

Hari ini merupakan kamis kedua pada bulan Januari, lebih tepatnya lagi tanggal tiga belas. Hari ini juga merupakan ujian akhir semester saya yang pertama. Terduduk sudah saya didalam kelas. Didepan saya terdapat Si Melati (sebut saja dia begitu), ke arah diagonal dari tempat duduk saya terduduk Si Raflesia (sebut juga dia begitu). Kertas soal sudah diberikan, mari kita kerjakan. Terbelalak mata saya ketika baru saja melihat soal-soal awal pada kertas tersebut. Tersuguh rapih puluhan soal hitungan yang sebenarnya saya mengerti untuk materi ini, tapi berhubung saya tidak belajar jelaslah sudah hampa ku rasa. Mencoba menoleh ke kanan dan kiri, ke depan, mustahil ke belakang, bunuh diri namanya karena para pengawas memposisikan dirinya dibelakang kelas. Dan TAAARRAAA !!! Terlihat jelas kertas soal milik Raflesia menggoda hasrat saya untuk melihat. Pada kertas soal milik Raflesia terdapat banyak coretan hitung-hitungan yang sudah tidak tertata rapih antriannya, disertakan juga coretan pada option jawaban, jelaslah itu jawaban miliknya. Enggak pake lama langsung saya ringkus jawaban tersebut walaupun hanya sedikit.

Rabu, 12 Januari 2011

Dilema Jangan Terlena

Malam ini di dalam kamar, saya lihat keluar ke arah jendela, tidak ada matahari yang menampakkan dirinya, yaiyalah ini kan sudah malam, mana ada matahari. Sejenak berfikir jadi apa saya setelah lulus nanti, IP enggak ketulungan naik turunnya, kemampuan enggak begitu terkopetensikan (tau deh bener apa enggak tulisannya, emangnya saya pikirin), belum lagi permintaan dari setiap perusahaannya nanti yang mau ini mau itu. Enggak cuma perusahaan, warung kelontong juga apabila mencari karyawan pasti menoleh pada mereka yang memiliki keuletan dan kemampuan yang mantap. Pusing emang kalau diputer lagi nih ingatan kembali ke masa dimana saya menentukan jurusan pada tahap awal kuliah. Kenapa harus ini, kenapa enggak yang itu. Maklumlah usia muda tidak terlalu matang untuk berfikir ke arah depan, yang ia tau cuma berangkat kuliah dan meminta uang bayaran saat waktunya tiba.

Apa bisa saya membanggakan orang tua saya, padahal sampai saat ini belum bisa menunjukkan prestasi dalam bidang pendidikan. Apa bisa juga saya menghasilkan penghasilan yang sekiranya diatas rata-rata sarjana pada umumnya. Geleng-geleng sambil tertunduk malu, itu pasti bahasa tubuh yang saya keluarkan. Down .. down .. down .. benar-benar pusing saya dibuatnya. Rubah posisi saya menaruh badan untuk celentang diatas kasur. Lagi-lagi kepikiran umur berapa saya bisa melamar seorang wanita yang kelak akan jadi ibu dari anak-anak saya. Bisa membelikan mereka rumah yang layak untuk disebut tempat tinggal, tidak seperti rumah-rumah yang terdapat dibantaran kali disana itu, tidak terlihat seperti rumah, tetapi bagi “mereka” itu rumah, enggak tau deh nyaman apa gelisah yang mereka rasa.

Bisa juga gak ya saya memberangkatkan orang tua saya untuk pergi haji (amien Ya Allah). Ini memang bisa disebut sebuah dilema, bikin hati jadi gak tenang, bikin badan gemeteran, bikin males makan, malas mandi, malas kuliah (bukan jadi alasan). Tapi seharusnya (kata mereka) ini menjadi sebuah motivasi, ya bisa dikatakan ini menjadi sebuah cita-cita atau target untuk hari esok, esok dan esoknya lagi. Seharusnya (kata mereka) kita harus penuh semangat untuk mewujudkannya. Emang sih perasaan semangat yang amat membara kadang-kadang muncul sampai-sampai saya merasa seperti rambo yang sedang ikut berperang. Tapi tidak bisa dielakkan juga rasa semangat itu mudah pudar dengan sendirinya.

Mana semangat mudamu ? Hah itu kan celotehan jaman dulu atuh, sekarang anak muda sudah ngebelakangin yang namanya realita, lebih menggantungkan hidupnya pada apa yang orang tua punya. Jadi susah deh buat jadi dewasa. Tapi sifat penuh semangat dan dewasa dalam menyikapi masalah hidup harus segera dimiliki. Semoga ini bukan hanya menjadi sebuah wacana tanpa akhir yang bahagia. Dimana malumu hey kawula muda ?!!

Oleh : Bang Adam

Selasa, 11 Januari 2011

Martabak Racing

Hari itu sudah petang menjelang malam, kalau Indonesia bagian barat sih baru aja selesai magrib. Saya disuruh ibunda membeli martabak diseberang komplek, ya sudah saya pilih untuk menggoes sepeda karena akhir-akhir ini entah kenapa saya sedang suka menggunakan kendaraan ini, ya hitung-hitung go green,menyehatkan, irit bensin juga, cuma ke depan komplek doang masa sih naek motor, manja banget. Sudah memakan beberapa menit sampai juga saya di tukang martabak, lumayan keringetan, dingin lagi keringetnya. “Bang martabak manis kacang meses dua ye !” cakap saya, saya emang cakap. Hehe. Bukan itu yang saya maksud, akh lanjutlah. Selang beberapa waktu terdengar dari kejauhan raungan motor (sebut saja bunga) tetapi tak kunjung terlihat batang rangka eeeeii itu motor, tiba-tiba meletuslah serangkai kata dari abang martabak begini bunyinya “akhh tuh motor berisik doang bunyinya, tapi larinya gak ada !”.

Ngeh dengar ocehan si abang saya langsung respon saja seraya mencari teman ngobrol menanti martabak selesai dibuat “Emang kalo motor bunyinya kenceng harus kenceng juga bang larinya ?” ujar saya kepada lelaki yang kira-kira sudah kepala empat. “Seharusnya sih gitu dek, dulu waktu saya muda saya juga maen balapan lho ! Saya juga suka ikut-ikutan balap liar di kampung saya …. “ (si abang terus menyerocos tentang pengalamannya dahulu kala). Saya mendengar dan saya dapat membayangkan betapa gagahnya si abang waktu remaja, sudah seperti geng motor kaya yang sering muncul di siaran berita pagi. Tapi si abang menegaskan kalau dulu dia sama teman-teman motornya enggak suka bikin ulah dengan masyarakat sekitar, pure balapan liar saja (emangnya balapan liar enggak ganggu ketenangan warga ya ?).

Si abang juga sempat menyebutkan berbagai macam onderdil motor dengan cara-cara menyeting benda-benda tersebut. Intinya sih saya percaya deh sama hobi si abang yang terdahulu, seorang joki motor entah handal apa masih kacangan (maap ya bang). Akhirnya dua tumpuk martabak selesai dibuat olehnya, langsung saja saya sambut sambil member ongkos itu martabak. Sembari mencari uang kembalian si abang bertanya kepada saya “adek punya motor ?”, saya jawab “iya, punya bang, tapi saya enggak suka ikut balap-balapan !”. “Bagus itu, pokoknya jangan ikutan kegiatan yang enggak bener, kasihankan kamu punya orang tua sedih. Anak saya juga sudah saya nasehatin” balas dia. “iya bang, makasih nih ceritanya !” jawab saya seraya meninggalkan kedai miliknya.

Hebat deh cerita si abang dari balapan liar, tobat, sekarang jadi tukang martabak. Gapapa ye bang, yang penting halal terus juga abang enggak ikut kegiatan yang enggak bener. Hehehe. (maap ye bang saya balikin) hahaha …

Oleh : Bang Adam

Senin, 10 Januari 2011

Chip Ohh Chip

Ini kisah tentang lingkup pergaulan saya sekitar kampus, ini cerita dimana permainan virtual yang di akomodasikan oleh salah satu jejaring sosial. Sebernarnya permainan ini sudah lama sekali mencuat dipermukaan, namun memang yang namanya musim bisa saja terulang lagi masa kejayaan permainan ini. Sekarang lagi digemari kembali oleh teman dekat kuliah saya, sampai-sampai jadi trending topik didalam kosan. Kata–kata raise, fold sampai mengemis chips (modal/harta dalam game tersebut) pada teman sering tertangkap oleh telinga. Memang sangat mengasikkan bermain itu apalagi dalam satu meja virtual bersama teman. Saling mengejek, saling memuji (kalau ada maunya).

Gak sedikit yang baru-baru saja berusaha untuk mempelajari game ini, nanya-nanya ke temen sampai terjun langsung ke medan perang. Permainan ini pun bisa disebut membuka lapangan kerja baru, menjual chip dengan volume yang banyak ditukar dengan rupiah yang patut diperhitungkan jumlahnya dapat saja terjadi. Baru-baru ini teman saya bisa membeli sebuah gitar listrik, ini akibat dari tekunnya ia mengais chip dengan cara bermain manis tanpa henti. Hebat deh memang. Ada juga yang sudah diberikan modal, tapi tetap saja bangkrut. Entah ini faktor keberuntungan yang kurang berpihak atau faktor otak yang bebel (au deh bebel itu bahasa mana).

Jumlah chip juga sering mereka pamerkan, ada juga yang terdiam saat ajang memamerkan tersebut digelar, entah itu dia tidak suka bermain atau dia sedang miskin chip. Sampai-sampai ada yang mengambek karena permohonan minta chip pada teman lain tidak terpenuhi. Ironis memang melihat keadaan ini. Gak tau deh sifat kaya gitu pencerminan kedewasaan atau masih anak-anak. Persetanlah bagi mereka. Buat mereka chip tinggi adalah pertanda kuat diantara mereka. Jadi seberapakah kemampuan anda dalam hal ketelitian membaca arus permainan, itu mempengaruhi kemakmuran anda untuk kedepannya. Pertaruhkan gengsi dengan nominal uang virtual.

Oleh : Bang Adam

Sabtu, 08 Januari 2011

Merana Tanpa Air

Waktu itu tanggal enam dibulan januari ditahun yang baru ini, puluhan ember maupun wadah yang dapat menampung air berserakan ditempat cucian sampai kamar mandi dirumahku. Fenomena ini sudah berlangsung sejak kemarin, saat dimana ada pengumuman tentang pemutusan air PAM untuk sementara, mungkin airnya lagi beku jadi gak mau ngalir atau lagi ngambek karena sudah jenuh tiap hari kerjaannya cuma mengalir aja. Mana saya tau masalah pribadi dia, yang pasti ini membawa dampak buruk bagi kehidupan saya. Hal ini katanya berlangsung selama tiga hari. Dalam lingkup waktu yang sudah ditentukan hanya ucapan ibunda yang selalu saya ingat “Pakai air seperlunya aja, jangan boros. Mandi pagi aja, sore gak mandi juga gak apa-apa. Keadaan darurat”. Yaa sejujurnya sih emang saya mandi cuma pagi doang setiap harinya, bahkan kalo libur tiba tidak mandi seharian dengan alasan tidak ada acara keluar rumah.

Sudah-sudah jangan membicarakan masalah kejorokan saya, tapi saya tetap wangi kok, sumpah deh. Kembali kita ke problematika yang sedang saya hadapi saat itu. Hari ini, hari kamis ini sebenarnya ada jadwal kuliah, tetapi memang setan selalu menang untuk masalah ini jadi saya pastikan saya tidak berada pada tempatnya disaat dosen mengajar. Sudah pukul sembilan pagi, tampungan air sudah menipis ini dikarenakan ibunda dan adik-adik saya sudah memakainya sejak pagi. Hah demi mengirit air sampai hari esok alhasil saya pergi saja ke kosan teman, dengan niatan menumpang mandi. Dengan kondisi kucel and the kumel saya melintasi jalan raya. Akhirnya sampai di kosan Fachri, hmm melihat keadaan bak mandinya yang terisi penuh langsung saja saya tergiur segera mengeluarkan perlengkapan mandi dan langsung bersafari didalam sana.

Segar sekali air ini, hanya itu yang saya pikirkan. Saya juga merasakan lengket tubuh saya meluntur karena bilasan air-air ini. Saya juga bisa membuang isi perut saya yang sudah saya tahan sejak kemarin malam, disini saya bisa leluasa memakai air. Bisa nyanyi-nyanyi lagi sambil main air, bisa ‘nongkrong’ sepuasnya, gak kaya dirumah untuk saat itu. Persetan deh sama gunjingan teman yang melihat saya menumpang mandi, yang penting tubuh saya dapat segar kembali, karena sumber air sudekat. Dan ketika jumat pagi datang, wuih begitu lancarnya air yang keluar dari mulut keran, tentu ini dapat merubah nasib saya untuk pagi ini, tidak seperti kemarin. Enggak kebayang deh kalau fenomena ini berlangsung dalam jangka waktu yang teramat panjang. Bisa tertera tanggal kadaluarsanya dah dibadan saya. Saya juga tidak menyesal memakai air PAM walaupun kadang-kadang muncul keadaan seperti ini. Di banding menggunakan jet pump, mengkonsumsi air PAM itu sudah mendukung perlakuan baik terhadap tanah.

Karena air PAM itu berasal dari gunung, sedangkan menggunakan jet pump kita menyedot air dari dalam tanah yang ujung-ujungnya bisa mengakibatkan pengikisan pada tanah. Gak kebayangkan kalau tanah rumah kalian tiba-tiba ambles. Ngeri lho !

Oleh : Bang Adam

Rabu, 05 Januari 2011

Sreeeeekk .. !!!

Hari ini senin pertama di tahun 2011, hari ini juga saya mempunyai kegiatan wajib yaitu berkuliah, bermahasiswa dan bersosialisasi dengan mereka yang menganggap dirinya naga. Hehe (baru pernah ketawa). Ya tak apa laa, mencoba untuk tampil lebih gurih dan santai dalam menulis. Kita lanjut lagi, naga itu ungkapan dari mereka untuk diri mereka sendiri. Memang gila anak jaman sekarang, manusia kok dibilang naga. Hari ini dengan terpaksa saya menggas si Tamara ke arah utara, ke kampus kelapa dua, yang mahasiswa setempat bilang kampus E. Sebenarnya saya ke kampus hanya ingin memberikan empat lembar kertas muka tulisan ilmiah saya kepada dosen pembimbing yang saya miliki, sembari menemani kawan saya untuk bimbingan. Jadi aja saya memberangkatkan diri, tapi sebelum saya menempatkan pantat motor tepat pada parkiran kampus, saya mampir terlebih dahulu ke ruko dokter kulit langganan ibunda untuk membeli obat titipan ibunda, maklum beliau kan wanita karir jadi tidak sempat untuk ke sana kemari sembarang waktu. Sombong.

Selepas saya mendapatkan apa yang saya cari di ruko itu, langsung saya meluncur ke TKP selanjutnya untuk melancarkan tujuan awal. Bergulir sudah roda ukuran lumayan kecil ini menyusuri jalanan lapang jantung kota Depok, ya benar Margonda. Setelah melewati gerbang Depok saya mengambil arah bawah jembatan lalu melengkung ke arah kanan, lalu lempeng saja ke depan pasti lewat kampus saya. Langsung saja saya parkir, menyisipkan motor saya diantara motor-motor lainnya. Saya hampiri si naga-naga itu, jumlah mereka tidak sebanyak biasanya, mungkin males untuk melangkah ke sini, ke kampus. Setelah lumayan membuang waktu bersama mereka, akhirnya saya berangkat untuk misi selanjutnya tetapi saya mendapati dosen pembimbing saya di kampus G. berangkatlah saya ke kampus tetangga.

Ciiiiaaaattttt … !!! Langsung aja lompat kepermasalahan yang ada, jadi begini sewaktu saya kembali menginjak kaki saya di kampus awal, saya merangkak ke arah parkiran untuk menculik motor saya dengan niat melanjutkan sisa waktu hari ini ke kosan kawan. Setelah saya mendapati motor saya, memulai saya untuk menungganginya, dari belakang terdengar suara lelaki yang tidak sabar untuk menunggu saya untuk segera mengeluarkan motor saya, dia tidak sabar untuk mengantri rupanya. Ketika saya tengok ternyata dia (kawan kelas lain), saya kira siapa. “iye tunggu sebentar” sahut saya mengingatkan. Mendorong motor saya dengan kaki saya ke depan ke arah seharusnya, lalu Sreeeekkk !!!! akh apa yang baru saja terjadi, suara asing apa itu yang baru saja saya dengar.

Setelah si Boleng (kawan yang tadi tak sadar mengantri) lewat, saya longok ke arah sumber bunyi itu bermuara, dan ternyata terdapat lubang yang tidak beraturan dan cukup besar pada selangkangan celana saya. Ini salah satu celana yang sangat saya sukai, ini celana yang sudah hampir empat tahun menemani saya bergaul di seantero kampus. Ini benar-benar sangat memalukan, hanya udara dingin yang saya rasakan sewaktu saya berada dijalan. Angin sekitar tidak jarang untuk sekedar mampir bersikulasi tepat pada lubang besar yang baru saja terbuat karena faktor betotan keras oleh otot paha saya. Hah hanya rasa haru yang menghiasi sanubari ini selama diperjalanan ke arah jalan pinang. Sesampainya di kediaman sementara Fachri, saya jenguk kembali keadaan celana saya yang saya rasa parah dia memiliki luka. Pasrah dan sabar yang tersirat dibenak saya, Tuhan pasti memberikan solusi untuk perkara ini. Ya Allah tunjukkan kebesaran-Mu pada celana kesayangan ku ini. Amien.

Dan satu lagi, untuk saat ini saya tidak sependapat dengan ungkapan “MATI SATU TUMBUH SERIBU”. Bayangkan saja apabila saya kehilangan satu celana, lalu digantikan dengan seribu celana. Siapa yang mau mencuci sampai tahap menstrika ?

Oleh : Bang Adam