Selasa, 25 Januari 2011

Pedasnya Si Cabai

Belum juga berakhir kisah miris yang terilis sudah di dalam bangsaku ini, merintih kembali mereka para anak asuh ibu pertiwi ini. Tak hentinya dirundung oleh berbagai macam ancaman mental maupun secara fisik. Yang baru saja naek pamornya karena tersandung kasus penyelewengan pajak, pelaku berinisial GT, siapa sih yang gak tau dia, siapa juga yang enggak diselimuti kemarahan apabila tau kelakuan dia selama ini.  Seorang tahanan negara karena sudah merugikan bangsa dengan penipuannya dapat bebas berjalan-jalan, bertamasya sampai ke luar negri. Saya sih enggak mau bahas bagaimana cara dia meloloskan diri dari kokohnya fisik para penjaga rutan, karena akan panjang urusan dalam hal berceritanya, belum lagi menyeret beberapa nama ya sama saja membicarakan orang lain. Saya takut apa yang saya lontarkan berbeda dengan kenyataannya, nanti malah saya yang tertimpa dosanya.

Sabtu, 22 Januari 2011

Mabuk Jamblang

Ini namanya jamblang
Ini sebenarnya kisah sudah lama terjadi, saya juga agak lupa bagaimana urutan kisahnya, tapi saya coba untuk merangkainya. Ini cerita dimana saya belum terlampau lama lulus SMA, tetapi sudah menduduki bangku perkuliahan. Suatu waktu saya dengan teman-teman SMA saya sedang bermain dirumah mezmew (ia biasa dipanggil begitu), saat itu kami sedang gemar-gemarnya bermain kartu, hmm saya sebenarnya enggak tau nama permainan ini apa, mungkin poker, karena cara bermainnya hampir sama. Jadi setiap kali kalah dalam satu putaran permainan kami akan dikenakan hukuman. Enggak tau ide cemerlang atau bisa dikatakan ide yang bodoh ini muncul darimana, setiap pemain yang kalah dihukum untuk meminum air hujan yang kebetulan saat kejadian memang sedang terjadi hujan yang lumayan lebat.

Jumat, 21 Januari 2011

Benar-Benar Tidak Enak

Malam hari. Baru saja menginjakkan kaki dilantai rumah, badan terasa gak seperti biasanya. Kali ini ia sangat sulit untuk di ajak kompromi. Tapi saya coba saja bawa seperti biasa, mencoba menganggap kalau tidak sedang terjadi apa-apa pada diri saya. Hah enak sekali rasanya memanjakan badan diatas kasur setelah sekian jam beraktifitas. 

Ada niatan untuk menyiduk nasi ke dalam piring, tapi berat banget buat mengajak badan saya, alhasil luputlah sudah niatan untuk makan. Hidung saya rasanya seperti ada yang memberikan lada, gatal dan ingin bersin terus menerus. Saya teringat bahwa dihari sebelumnya tenggorokan saya juga terasa amat gatal. Hmm ini mungkin gejala pilek, lebih kerennya sih Influenza. Sakit kok sombong.

Rabu, 19 Januari 2011

Jendral Kancil

Gaya seorang Muhajirin.
Sudah memasuki ujian akhir semester yang kedua dan selanjutnya. Tingkah soal-soal yang bermunculan semakin saja meresahkan mahasiswa yang memiliki tingkat kesadaran untuk belajar sangat rendah. Apa lagi waktu itu, di hari selasa. Saya dan teman-teman satu angkatan mendapat jadwal untuk ujian Konsep Data Mining. Seperti biasa, yang saya lakukan adalah tidak belajar sama sekali dan menganggap semua soal itu mudah sebelum ujian, tetapi sewaktu berada dalam kondisi didalam kelas hanya tanda tanya dan kerutan di jidat yang menemani. Entah ini suatu pemecahan masalah yang saya hadapi ataukah ini suatu keteledoran dari seseorang. Muhajirin yang kami kenal sebagai ketua kelas kami.

Kami memilihnya karena kami merasa kalau dia memiliki sifat kepemimpinan yang sangat atraktif dan kooperatif (mudah-mudahan kata-katanya bener). Yaa muhajirin, dia memberikan suatu pencerahan, bukan pencerahan sih. Lebih tepatnya lagi suatu bocoran ketika kami sedang haus akan sebuah jawaban (ini bukan berarti musyrik ya). Dengan suatu formasi yang entah terencana ataupun tidak, ia dengan cekatan dapat memberikan suatu jalan keluar kepada teman-temannya untuk dapat bersama meraih suatu penyelesaian. Tepatnya di hari itu, dimana ujian Data Mining berlangsung. Lingkup kecil dari satu ruangan memiliki rasa kacau dalam mengerjakan. Tetapi karena kehadiran jawaban darinya, kekacauan yang terjadi berangsur-angsur pudar.

Minggu, 16 Januari 2011

Home Sweet Home

Disini saya berada sejak saya masih berumur satu tahun, masih imut-imutnya, masih belum mengenal guratan garis kehidupan, masih dibilang polos seperti kertas HVS. Sebuah rumah yang tidak bisa dibilang megah maupun berkelas. Sebuah rumah yang enggak bisa ngalahin Gelora Bung Karno. Sebuah rumah yang enggak tetap kuat berdiri kalau tertimpah pesawat boing. Tapi didalam rumah ini saya mendapati banyak kisah. Didalamnya terdapat lima kepala, mereka adalah ibunda, saya dan ketiga adik saya yang masing-masing masih mejajaki bangku sekolahan. SMA, SMP, TK. Ayahanda tidak berada dirumah dikarenakan sedang mendapat tugas diluar kota, bahkan diluar pulau. Entah kapan beliau dapat berkumpul bersama kami lagi disini, hanya Allah dan atasannya yang tau.

Jumat, 14 Januari 2011

Blues Berakar Dari Kaum Muslim

Terkejut saya ketika iseng menggunakan mesin pencari idola kita bersama, mereka sering menyebutnya, ya benar “Mbah Gugel”. Apa sih yang enggak dia tau ? (Tapi jangan sampai umat manusia menyembah dan menganggap Google sebagai Tuhan, syirik itu namanya, dosa, masuk neraka). Kembali lagi membahas keterkejutan yang saya temukan, pada suatu blog yang sebenarnya mungkin orang ini juga sudah mendaur-ulang kembali cerita tentang sejarah musik Blues. Atau mungkin memang saya sendiri yang terlambat dalam menunjukkan artikel ini, istilah sekarang basi, ya namanya juga pemula untuk ini itu, lebih baik terlambat dari pada tidak tau sama sekali. Didalam artikel yang terpampang dalam blog tersebut diceritakan bahwa musik Blues tersebut berakar dari Kaum Muslim. Wah .. keren kan ?!!. Untuk kelanjutannya kita simak bersama.