Ini cerita sewaktu warna putih bitu melekat dengan tubuh saya. Ini sudah tahun ketiga saya mengenakan seragam ini. Saya mempunyai dua orang sahabat yang selalu menemani saya saat melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Mereka adalah Johan dan Ludi, Johan merupakan kawan yang telah saya kenal semenjak SD, lebih tepatnya lagi pada waktu saya menjajaki kelas enam SD. Sementara Ludi baru saya kenal disaat kami baru saja menunggangi jenjang menengah pertama. Rumah kami masih terdapat dalam satu papan nama komplek, hanya dipisahkan oleh tiga kepala RT. Setiap harinya Johan selalu menyantroni rumah saya ketika berangkat sekolah, karena rumah Johan memiliki lokasi paling jauh dengan jalur yang sering kami lalui untuk ke jalan raya. Ketika saya sudah siap, kamipun mewujudkan hasrat kaki kami untuk melangkah menuju kediaman Ludi, tepat di depan mesjid kami hentikan sejenak langkah kecil ini untuk menunggu Ludi keluar dari peraduannya. Perjalanan ke arah kediaman Ludi melewati jalan pinggir kali.
Senin, 03 Januari 2011
Sabtu, 01 Januari 2011
Hanya Sebongkah Pertanyaan
Bukan lagi menjadi sebuah rahasia, bukan lagi menjadi berita yang disembunyikan, bukan hanya menjadi buah bibir mereka. Ini memang kenyataannya, ini memang kejadiannya. Nyata, benar-benar riil terjadi. Bukan bermaksud memiliki kesan merendahkan maupun menjatuhkan. Ini hanya sebongkah pertanyaan yang tidak perlu lantang untuk di jawab. Ketika nurani mulai tersentuh, menyadarkan kalian akan sandiwara selama ini. Yaa sandiwara yang disutradarai oleh Sang Pencipta.
Untuk mereka yang disebut kaum elite borjuis, pernahkan kalian tidur dengan gusar ketika hujan lebat menghujam rumah kalian. Pernahkah kalian hanya meminum air putih untuk mengisi kosongnya perut kalian dalam kurun waktu satu hari penuh. Penahkah kalian memberi pengertian kepada anak kalian agar tidak terus merengek meminta karena kalian tidak memiliki uang. Pernahkah kalian berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan air. Pernahkah kalian berpeluh keringat seharian hanya untuk mendapatkan uang yang nyatanya memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Pernahkah kalian terbelalak dalam kerja kalian. Pernahkah kalian hanya memakan umbi-umbian dalam satu hari. Pernahkah kalian berlinang air mata disaat tidak ada biaya ketika anak kalian sakit. Pernahkah kalian tidak bisa tidur karena kondisi rumah yang tidak layak. Pernahkah anak kalian bersekolah tanpa alas kaki. Pernahkah anak kalian bersekolah tanpa seragam lengkap. Pernahkah kalian mengajak keluarga kecil kalian ikut bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Pernahkah kalian memakan nasi aking.
Untuk kalian yang mereka sebut kaum pinggiran, pernahkah kalian memakai safari saat pergi bekerja. Pernahkah kalian bermalas-malasan seharian. Pernahkah kalian menghirup udara dingin dari sebuah mesin diruang tamu kalian. Pernahkah kalian mengajak anak-anak kalian untuk bertamasya. Pernahkah kalian mempunyai waktu untuk bersenda gurau dengan anak kalian. Pernahkah kalian membayar SPP sekolah anak kalian sebelum batas waktu yang ditentukan. Pernahkah kalian tidur tenang tidak memikirkan perut kalian untuk hari esok. Pernahkah kalian berbelanja puas didalam pusat perbelanjaan ibukota. Pernahkah kalian memakan jagung pop sambil menyaksikan layar lebar. Pernahkah kalian tidak berkeringat saat bekerja. Pernahkah kalian memberi uang jajan secara rutin kepada anak kalian.
Masih banyak pertanyaan yang lebih mengiris hati, masih banyak pertanyaan yang dapat mengoyak batin, masih banyak pertanyaan yang dapat melukai hati, masih banyak diluar sana kenyataan yang memang bertentangan. Masih banyak dari mereka kaum pinggiran yang tidak bisa menerima kenyataan lalu berhujung kematian pada seutas tali. Masih banyak dari mereka kaum pinggiran yang tidak bisa menerima kenyataan lalu bermuara mereka didalam kurungan. Masih banyak dari mereka kaum pinggiran yang tidak bisa menerima kenyataan lalu berakhir dalam kamar isolasi. Masih banyak dari mereka kaum elite yang merogoh kocek kaum bawah untuk berpesta pora. Masih banyak dari kalian kaum borjuis mengasumsikan hidup ini bagai permainan playstation yang selalu ada cheat untuk ini dan itu.
Hidup ini mempunyai hakim yang tegas, hidup ini memiliki pengawas yang tak kenal rekayasa air mata, hidup ini diawasi pelindung yang tidak bisa dilucuti.
Oleh : Bang Adam
Jumat, 31 Desember 2010
Makna Dahulu dan Esok
Setiap orang mempunyai kisah masa lalu, setiap orang memiliki rangkaian potret terdahulu. Kisah masa lalu mungkin ada yang mengasumsikan sebagai kisah-kisah terkelam dalam hidupnya, kisah yang sudah tidak perlu untuk dibahas lagi, kisah yang tidak perlu untuk diingat kembali, sesuatu yang tabu untuk diceritakan. Ada juga sebagian orang yang mengartikan masa lalu itu sebagai memori yang terindah, yang tidak bisa dilupakan, yang sangat anggun untuk dibahas, yang mahal harganya bila dibandingkan dengan segenggam permata, sebuah cerita yang teramat klasik untuk disembunyikan. Itu semua adalah dampak bagaimana jalannya masa lalu dari masing-masing orang.
Apa bedanya masa lalu dengan masa depan. Hanya direntangkan oleh waktu, hanya dibatasi oleh ruang dimensi. Masa depan juga dapa menjadi masa lalu apabila masa ini telah terlewati. Apakah wajah-wajah yang pernah ada dalam masa lalu dapat dikategorikan sebagai perusak atau mungkin penyatu ketentraman hati. Dejavu. Kata ini selalu dihubungkan dengan masa lalu yang terulang kembali. Tulisan kali ini tidak panjang, tidak berekor banyak. Saya hanya ingin melukiskan apakah kata pada awal alinea pertama itu merupakan masa lalu karena lumayan terjadi lebih dahulu dari kata terakhir yang saya ketik pada akhir paragraf.
Masa lalu dan masa depan itu tidak terbentang jauh. Jadi jangan sia-siakan waktu yang ada.
Oleh : Bang Adam
Kamis, 30 Desember 2010
Remaja Akhir Pekan
Dalam satu minggu terdapat tujuh hari, ada hari senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, sabtu kemudian minggu. Diantara hari-hari itu, dari hari senin sampai hari sabtulah hari yang dikenal sebagai waktu beraktifitas diluar rumah pada umumnya, tidak terlepas juga dengan anak sekolah. Enam hari waktu yang cukup banyak, mungkin juga terlalu banyak untuk berada dibangku sekolahan, karena memang itu sudah prosedurnya. Tidak heran apabila terdapat block merah pada satu tanggal di deretan hari-hari dalam satu minggu tersebut membuat mereka girang untuk berleha-leha melupakan sejenak hal-hal teoritis tentang pendidikan formal. Enam hari juga merupakan waktu yang cukup membuat otak mereka serasa seperti jalanan ibukota setiap paginya, yang peluh, yang sesak, yang berhimpitan, nyaris tidak ada ruang.
Selain membagi kemampuan otak untuk berfikir, mereka juga menggunakannya untuk mencari ide ataupun usul tentang kegiatan yang akan dilakukan dipenghujung minggu. Mulai dari menyisihkan uang jajan setiap harinya, mengatur rencana, memborong kepingan film atau apalah itu yang dapat membalas kedisiplinan yang mereka terapkan setiap harinya. Entah ini fenomena atau memang sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu dulu, dulu kala, lampau sekali. Ketika waktu sudah menginjak hari sabtu lebih tepatnya sabtu sore sampai jumpa hari minggu, sekumpulan remaja berhamburan keluar rumah entah itu sekedar main ke rumah teman mereka, pergi ke pusat perbelanjaan, sampai berkencan dengan kekasih mereka. Ini sudah sangat tidak langka terjadi.
Wajah senang, wajah tanpa beban, wajah yang elok untuk dipandang mereka suguhkan kepada setiap tepi jalan, menggambarkan betapa hausnya mereka untuk meminum udara segar tanpa adanya rumus dan sejarah bangsa yang tercetak pada ratusan halaman. Menggantikan buku-buku latihan dengan menu makanan yang terdapat ditempat makan bertipe muda, menggunakan rumus matematika untuk menghitung keuangan yang mereka miliki agar tidak tercecer segala hasrat untuk menikmati sesuatu. Tidak lagi dihadapkan papan putih besar yang digoreskan tinta oleh pahlawan tanpa tanda jasa melainkan dihadapkan dengan sebongkah layar besar yang menampilkan sejumlah film teranyar yang sedang digandrungi oleh kalangan belia ini.
Ketika waktu sudah menjajah malam, mulailah mereka memasang paras yang kecewa akan berakhirnya satu hari yang benar-benar menggoreskan kesan bahagia bagi mereka. Kembali mereka akan menghadapi kepenatan yang selalu terjadi setiap minggunya. Kembali mendengarkan perintah yang terlontar dari mulut sang ibu untuk selalu belajar. Kembali lagi mereka berjumpa dengan kumpulan rumus yang mereka anggap teramat membosankan dan membuahkan sakit pada kepala. Sampai bertemu lagi sabtuku yang teramat ku nanti, sampai bertemu kembali kisahku yang terbatas hari, sampai bertemu lagi kenangan ku yang selalu akan seperti ini.
Oleh : Bang Adam
Rabu, 29 Desember 2010
Romansa Beralmamater
Dulu semasa belia saya, selepas saya SMA, setelah saya melaksanakan UAN, delapan belas sudah umur yang saya miliki. Ketika itu turun perintah dari ibunda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, berhubung terjadi kelemahan pada otak saya sehingga muncul keyakinan saya yang teramat tinggi untuk tidak mungkin mendapati peruntungan pada universitas negeri. Bergulirlah saya ke sana, dimana sekarang saya memiliki civitas untuk mendapati sebongkah map besar berisikan kumpulan kertas yang mereka sebut formulir. Alhasil berlayarlah saya mengayun pelan dayung pendewasaan pengetahuan disana.
Saya senang dimana saya harus bangun pagi untuk berada dilingkup kampus tepat waktu agar tidak mendapat hukuman pada saat ospek berlangsung dengan kepala dalam keadaan rambut setebal satu sentimeter. Saya senang dimana ketika saya harus menyanyikan mars wajib dibawah pimpinan seorang senior. Saya senang dimana saya harus berpanas-panasan menunggu acara ini selesai. Hari itupun berlalu dengan hasil almamater berhasil saya panggul dipundak. Saya senang ketika hari pertama kali kuliah, itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Saya senang ketika saya diperintahkan salah seorang dosen untuk memperkenalkan diri sampai domisili saya. Saya senang ketika saya mendapat teman pertama didalam ruang kelas saya. Saya senang dapat duduk dikursi yang berbeda dengan kursi saya beberapa bulan sebelumnya.
Saya bahagia ketika saya mendapati istirahat pertama saya sebagai seorang mahasiswa. Saya bahagia walaupun harus berpindah-pindah lantai dan gedung untuk mendapati dosen yang sesuai didalamnya. Saya bahagia ketika saya mencetak sebuah kartu yang berisikan mata kuliah saya di semester awal. Saya bahagia ketika harus memfotokopi bahan kuliah yang mengharuskan saya mengocek kantong untuk merelakan rupiah tersebut menjadi puluhan kertas. Saya bahagia ketika saya mendapati kuis di setiap semesternya. Saya bahagia ketika saya semakin banyak memiliki teman disana. Saya bahagia ketika saya hanya dapat mengisi perut saya dengan makanan seadanya karena uang jajan yang sudah menipis.
Saya rela ketika saya harus mendorong motor saya keluar kampus ke arah bengkel berada karena ban bocor. Saya rela ketika saya bergegas ke kampus tetapi tidak melakukan apapun karena dosen tidak dapat hadir. Saya rela disaat saya membolos dari perkuliahan karena rasa malas benar-benar sudah membabi buta. Saya rela ketika saya harus pulang larut karena saya asik bermain di kosan teman. Saya rela ketika saya harus menempelkan jemari saya di atas mesin ketik. Saya rela ketika saya diusir dari dalam ruangan karena ada yang tidak sesuai pada diri saya. Saya rela ketika saya harus mengalah untuk keegoisan kawan. Saya rela ketika saya menyayangi teman-teman saya. Saya rela harus menguras isi dompet untuk mentraktir teman.
Saya ikhlas dimana saya harus dicontek ataupun mencontek ketika ujian berlangsung.
Saya ikhlas tidak berada di dalam kelas secara rutin ketika ujian tengah semester telah di lewati. Saya ikhlas ketika saya harus bercanda dan mengobrol ketika dosen sedang menerangkan. Saya ikhlas ketika saya membuat teman saya cemberut ataupun marah karena ulah yang saya buat. Saya ikhlas ketika saya mendapat nilai lebih buruk dari teman saya. Saya ikhlas memiliki IP hampir memasuki kepala tiga. Saya ikhlas ketika saya harus memainkan gitar dan bernyanyi dilingkungan kampus. Saya ikhlas ketika saya harus menghibur teman saya yang bermuram durja. Saya ikhlas ketika saya bolak-balik ke kosan teman-teman saya untuk menghasilkan kumpulan tulisan yang berbatas semester. Saya Ikhlas ketika saya diharuskan membuat penulisan ilmiah yang menguras materi maupun tenaga. Saya ikhlas ketika saya dihadapkan dengan dosen pembimbing untuk melancarkan perjalanan saya untuk sidang diploma. Saya ikhlas ketika saya harus mempresentasikan kumpulan kata-kata saya yang tersusun rapih dengan beberapa bab.
Saya bangga berada dibawah atap bersama kalian dan saya bangga bisa berada dekat diantara kalian.
Oleh : Bang Adam
Selasa, 28 Desember 2010
Sesak Nafas Nominalku
Langit sudah gelap gulita, bintang pun nampak jelas diangkasa. Detak jarum jam pun semakin jelas terdengar karena suasana yang sudah benar-benar sepi. Berdiri saya dibalkon kamar berpegang tangan saya pada tembok penyangga balkon yang dingin karena diterpa angin malam yang kalau dirasa bagaikan menembus rusuk. Suara cicak terdengar seakan merambat melewati dinding. Terpaku muram wajahku apabila mengingat kondisi yang sedang saya alami, entah ini karena melesetnya perhitungan saya terhadap dia atau memang kesalahan saya menggunakannya secara berlebihan tanpa rasa sadar yang tinggi. Hal ini membuat saya berulang kali menarik nafas dalam-dalam, terasa seperti berpakaian safari tetapi tidak memakai celana dalam. Terasa seperti menaiki mobil mercedes benz tetapi tanpa roda, terasa seperti anak baru gede yang tidak memiliki facebook.
Resah, gelisah, mumet hanya itu yang bisa saya rasakan. Nafsu makan berkurang setiap sarapan walaupun akhirnya habis juga menu yang disajikan ibunda. Kembali saya melangkah ke dalam kamar, menutup pintu lalu saya rapatkan kunci. Tumpukkan bantal lalu menyandarkan kepala tepat diatasnya. Terbelalaklah mata saya menatap bola lampu, mengingat hal yang dulu saya pernah lakukan. Tersenyum saya mengendarai motor ke sana ke arah bengkel, memanjakan motor kesayangan ibarat wanita yang haus akan hasrat untuk ke salon. Teringat lagi saat masuk ke tempat makan mahal, menghabiskan waktu didalam sana sampai benar-benar bosan. Teringat lagi saya yang sering menghampiri dagangan orang untuk sekedar mencicipi dan membungkus beberapa darinya untuk dinikmati dirumah.
Tapi kini penyesalan yang kurasa, entah sikap ini wajar atau mungkin saya yang tidak sportif terhadap keadaan. Kasihan ia sekarang, mungkin ia sakit karena perutnya kosong, mungkin ia sendiri tidak ada yang menemani, mungkin ia juga merasa tersingkirkan karena saya yang sudah jarang menjenguknya dengan alasan karena saya sudah tau kondisi ia sekarang, jadi tidak perlu lagi saya melongoknya. Mungkin sekarang ia kurus, kempes, tidak tebal lagi seperti hari kemarin. Memang benar penyesalan datang belakangan, saya sangat menyesal, saya sedih, saya terharu.
Sekarang kau tergeletak lemas jauh didalam sana, entah kapan saya dapat mengisimu kembali dengan puluhan lembar rupiah yang memiliki nominal lima digit angka. Entah kapan saya dapat menggenggammu kembali sambil tersenyum saat membuka dirimu untuk mengeluarkan sejumlah uang dikarenakan harus membayar sesuatu. Karena kesalahanku atau mungkin memang keterlibatan kebutuhanku, kau harus menerima keadaan ini. Mari kita panjatkan kembali doa kepada Tuhan agar saya dan kamu bisa bersama lagi meraih kebahagian dengan rupiah yang ada didalam tubuhmu. Saya sadar tidak bisa hanya doa saja yang dapat mengembalikan kebahagiaanmu, tetapi juga harus ada usaha yang mendukung untuk kita seperti dulu lagi. Dompetku nan malang.
Oleh : Bang Adam
Resah, gelisah, mumet hanya itu yang bisa saya rasakan. Nafsu makan berkurang setiap sarapan walaupun akhirnya habis juga menu yang disajikan ibunda. Kembali saya melangkah ke dalam kamar, menutup pintu lalu saya rapatkan kunci. Tumpukkan bantal lalu menyandarkan kepala tepat diatasnya. Terbelalaklah mata saya menatap bola lampu, mengingat hal yang dulu saya pernah lakukan. Tersenyum saya mengendarai motor ke sana ke arah bengkel, memanjakan motor kesayangan ibarat wanita yang haus akan hasrat untuk ke salon. Teringat lagi saat masuk ke tempat makan mahal, menghabiskan waktu didalam sana sampai benar-benar bosan. Teringat lagi saya yang sering menghampiri dagangan orang untuk sekedar mencicipi dan membungkus beberapa darinya untuk dinikmati dirumah.
Tapi kini penyesalan yang kurasa, entah sikap ini wajar atau mungkin saya yang tidak sportif terhadap keadaan. Kasihan ia sekarang, mungkin ia sakit karena perutnya kosong, mungkin ia sendiri tidak ada yang menemani, mungkin ia juga merasa tersingkirkan karena saya yang sudah jarang menjenguknya dengan alasan karena saya sudah tau kondisi ia sekarang, jadi tidak perlu lagi saya melongoknya. Mungkin sekarang ia kurus, kempes, tidak tebal lagi seperti hari kemarin. Memang benar penyesalan datang belakangan, saya sangat menyesal, saya sedih, saya terharu.
Sekarang kau tergeletak lemas jauh didalam sana, entah kapan saya dapat mengisimu kembali dengan puluhan lembar rupiah yang memiliki nominal lima digit angka. Entah kapan saya dapat menggenggammu kembali sambil tersenyum saat membuka dirimu untuk mengeluarkan sejumlah uang dikarenakan harus membayar sesuatu. Karena kesalahanku atau mungkin memang keterlibatan kebutuhanku, kau harus menerima keadaan ini. Mari kita panjatkan kembali doa kepada Tuhan agar saya dan kamu bisa bersama lagi meraih kebahagian dengan rupiah yang ada didalam tubuhmu. Saya sadar tidak bisa hanya doa saja yang dapat mengembalikan kebahagiaanmu, tetapi juga harus ada usaha yang mendukung untuk kita seperti dulu lagi. Dompetku nan malang.
Oleh : Bang Adam
Langganan:
Postingan (Atom)